width: auto; } -->

Kamis, 19 April 2012

ASPEK-ASPEK PSIKOLOGIS YANG BERHUBUNGAN DENGAN PERKEMBANGAN BERAGAMA

INTELIGENSI BERAGAMA
Pengertian Inteligensi (kecerdasan)
Kecerdasan dalam bahasa Arab disebut al-dzaka, arti secara bahasa ialah pemahaman, kecepatan dan kesempurnaan sesuatu, dalam arti kemampuan (al-qudhrah) dalam memahami sesuatu secara cepat dan sempurna.
Crow and Crow : mengemukakan kecerdasan ialah kapasitas umum dari seorang individu yang dapat dilihat pada kesanggupan pikirannya dalam mengatasi tuntutan kebutuhan-kebutuhan baru, keadaan rohaniah secara umum dapat disesuaikan dengan problem-problem dan kondisi-kondisi yang baru di dalam kehidupan.
Macam-macam Inteligensi (Kecerdasan)
1.      Kecerdasan Intelektual
Ialah kecerdasan yang berhubungan dengan proses kognitif, daya menghubungkan  dengan proses kognitif, daya menghbungkan dan menilai atau mempertimbangkan sesuatu. Kecerdasan intelektual dari segi kuantitas tidak dapat dikembangkan karena pembawaan sejak lahir, namun kualitasnya dapat dikembangkan.
Menurut Kohnstam kualitas kecerdasan intelektual dapat dikembangkan dengan beberapa syarat;
·         Kemampaun tersebut hanya sampai batas kemampuan dan tidak dapat melebihinya
·         Bahwa pengembangan tersebut tergantung kepada cara berpikir yang metodis
Tinggi rendahnya kecerdasan intelektual seseorang dipengaruhi oleh beberapa faktor :
·         Pembawaan, yaitu kesanggupan yang dibawa sejak lahir dan setiap orang tidak ada yang sama
·         Kematangan, yaitu saat munculnya daya intelek yang siap untuk dikembangkan mencapai puncaknya
·         Lingkungan, faktor luar yang mempengaruhi intelegensi pada masa perkembangannya.
·         Minat, yaitu motor penggerak dalam perkembangan intelegensi
2.       Kecerdasan Emosional
Salovey dan Mayor menggunakan kecerdasan emosi untuk menggambarkan sejumlah kemampuan guna mengenali emosi diri sendiri, mengelola dan mengeksplorasi emosi diri dengan tepat, mengenali dengan orang lain dan membina hubungan dengan orang lain.
Mahmud al-Zaky mengemukakan bahwa kecerdasan emosional pada dasarnya mempuanyai hubungan yang erat dengan kecerdasan uluhiyah (ketuhanan). Jika seseorang memiliki tingkat pemahaman dan pengalaman nilai-nilai ketuhanan yang tinggi dalam hidupnya, maka dapat diartikan bahwa dia telah memiliki kecerdasan emosional yang tinggi pula.
Aspek-aspek Kecerdasan Emosional
Ary Ginanjar mengemukakan aspek-aspek yang berhubungan dengan Kecerdasan Emosional dan Spiritual, seperti :
·         Konsistensi (Istiqomah)
·         Kerendahan hati (Tawadhu’)
·         Berusaha dan berserah diri (Tawakkal)
·         Ketulusan (Ikhlas) dan totalitas (Kaffah)
·         Keseimbangan (Tawazun)
·         Intergitas dan penyempurnaan (Ihsan)
Jalalludin Rahmat mengemukakan untuk memperoleh kecerdasan emosional yang tinggi, harus dilakukan hal-hal berikut :
·         Musyarathah, berjanji pada diri sendiri untuk membiasakan perbuatan baik dan membuang perbuatan buruk.
·         Murraqabah, memonitor reaksi dan perilaku sehari-hari
·         Muhasabah, melakukan perhitungan baik buruk yang pernah dilakukan
·         Mu’atabah dan mu’aqabah, mengecam keburukan yang dikerjakan dan menghukum diri sendiri
Goleman menyatakan bahwa kecerdasan emosional pada dasarnya memilki 5 aspek kemampuan, yaitu :
·         Kemampuan mengenali emosi diri
·         Kemampuan menguasai emosi diri
·         Kemampuan memotivasi diri
·         Kemampuan mengenali emosi orang lain
·         Kemapuan mengembangkan hubungan dengan orang lain
3.       Kecerdasan Moral
Ialah kemampuan untuk merenungkan mana yang benar dan mana yang salah, dengan menggunakan sumber emosional dan intelektual pikiran manusia. Indikatornya adalah pengetahuan tentang moral yang benar dan yang tidak, kemudian moral yang benar diaplikaskan kedalam kehidupan yang nyata dan menghindarkan diri dari moral yang buruk.
Menurut Abdul Mujid kecerdasan moral tidak bisa dicapai dengan menghafal atau mengingat kaedah atau aturan yang dipelajari di dalam kelas, melainkan membutuhkan interaksi dengan lingkungan luar.
4.       Kecerdasan Spiritual
Howard Gardner, psikolog penemu Multiple Intelligence, merasa bahwa ketujuh kecerdasan yang dikemukakan oleh ahli lainnya tidak cukup jika tidak dilengkapi dengan tiga kecerdasan lain yang tak kalah pentingnya, yaitu; kecerdasan naturalis, kecerdasan eksistensia, dan kecerdasan spiritual (Gardner, 1999: 47).
Sejalan dengan Gardner, ilmuwan suami istri Ian Marshall dan Danah Zohar memperkenalkan Spiritual Intelligence sebagai aspek ketiga dari dua aspek sebelumnya (IQ dan EQ). Zohar berpendapat bahwa pengenalan diri dan terutama kesadaran diri adalah kesadaran internal otak. Menurutnya, proses yang berlangsung dalam otak sendirilah-tanpa pengaruh panca indra dan dunia luar-yang membentuk kesadaran sejati manusia. Karena itu, Spiritual Intelligence adalah Ultimate Intelligence!
Setidaknya ada empat bukti penelitian yang memperkuat dugaan adanya potensi spiritual dalam otak manusia:
1)   Osilasi 40 Hz yang ditemukan oleh Denis Pare dan Rodolfo Llinas yang kemudian dikembangkan menjadi spiritual intelligence oleh Danah Zohar dan Ian Marshall
2)      Alam bawah sadar kognitif yang ditemukan oleh Joseph Deloux dan kemudian dikembangkan menjadi Emotional Intelligence oleh Daniel Goleman dan Robert Cooper dengan konsep suara hati
3)      God Spot pada daerah temporal yang ditemukan oleh Michael Persinger dan Vilyanur Ramachandran, serta bukti gangguan perilaku moral pada pasien dengan kerusakan lobus prefrontal
4)      Somatic Marker  oleh Antonio Damasio. Keempat bukti ini memberikan informasi tentang adanya hati nurani atau intuisi dalam otak manusia
Penelitian ini juga berhasil membuktikan bahwa hati nurani itu mengawal manusia setua evolusi biologi umat manusia. Dengan kata lain, penelitian ini memperkuat keyakinan bahwa manusia tidak mungkin lari dari tuhan.
Kcerdasan spiritual meliputi :
  • Hasrat untuk hidup bermakna
  • Motivasi untuk mencari makna hidup
  • Mendambakan hidup bermakna.
5.       Kecerdasan Qalbiah
Ialah sejumlah kemampuan diri secara cepat dan sempurna, untuk mengenal kalbu dan berbagai aktivitasnya, mengelola serta mengekspresikannya secara benar, memotivasi kalbu untuk membina hubungan moralitas dengan orang lain dan hubungan ubudiyah dengan Tuhan.
 “Kemudian dia menyempurnakan dan meniupkan ke dalamnya roh (ciptaan)-Nya dan dia menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati; (tetapi) kamu sedikit sekali bersyukur.” (QS As-Sajadah; 9)
Abdul Mujid menyatakan pengertian kecerdasan Qalbiah dapat dijabarkan dalam beberapa jenis:
1)      Kecerdasan intelektual (intuitif) ; kecerdasan qalbu yang berkaitan dengan penerimaan dan pembenaran pengetahuan yang bersifat intuitif–ilahiah seperti wahyu (untuk para rasul dan nabi) dan ilham atau firasat (untuk manusia biasa yang salih)
2)      Kecerdasan emosional ; kecerdasan qalbu yang berkaitan dengan pengendalian nafsu2 implusif dan agresif. Mengarahkan seseorang untuk bertindak secara hati-hati, waspada, tenang dan sabar
3)      Kecerdasan moral ;  kecerdasan qlbu yang berkaitan dengan hubungan kepada sesame manusia dan alam semesta
4)      Kecerdasan spiritual ; kecerdasan qalbu yang berhubungan dengan kualitas batin seseorang
5)      Kecerdasan beragama ; kecerdasan qalbu yang berhubungan dengan kualitas beragama dan bertuhan. Mengarahkan seseorang untuk berperilaku secara benar, yang puncaknya menghasilkan ketakwaan secara mendalam dengan dilandasi Iman, Islam, dan Ihsan. Dalam ESQ disebut 165.
SIKAP KEAGAMAAN
Merupakan suatu keadaan dalam diri seseorang, mendorongnya untuk bertingkah laku yang berkaitan dengan agama. Sikap keagamaan terbentuk karena adanya konsistensi antara kepercayaan terhadap agama sebagai komponen kognitif, afektif, dan konatif.
Zakiah Daradjat (1988) mengatakan bahwa sikap keagamaan merupakan perolehan dan bukan bawaan.  Ia terbenuk melalui pengalaman langsung yang terjadi dalam hubungannya dengan unsur-unsur lingkungan materi dan sosial, misalnya rumah yang tentram, orang-orang tertentu, teman orang tua, jamaah dan sebagainya. Walaupun sikap terbentuk karena pengaruh lingkungan, namun faktor individu itu sendiri ikut pula menentukan.
Menurut Siti Partini pembentukan dan perubahan sikap dipengaruhi oleh dua faktor, yaitu :
·         Faktor internal, berupa kemampuan menyeleksi dan mengolah atau menganalisis pengaruh yang datang dari luar, termasuk minat dan perhatian;
·         Faktor eksternal, berupa faktor di luar diri individu yaitu pengaruh lingkungan yang diterima.
Pembentukan sikap keagamaan ini sangat erat kaitannya dengan perkembangan agama. Sikap fanatik, toleran, pesimis, optimis, tradisional, modern, fatalism dan sikap free will dalam beragama banyak menimbulkan dampak negatif dan positif dalam meningkatkan kehidupan individu dan masyarakat dalam beragama.
TINGKAH LAKU KEAGAMAAN
Tingkah laku keagamaan adalah segala aktivitas manusia dalam kehidupan didasarkan atas nilai-nilai agama yang diyakininya. Tingkah laku keagamaan tersebut merupakan perwujudan dari rasa dan jiwa keagamaan berdasarkan kesadaran dan pengalaman beragama pada diri sendiri.
Tingkah laku keagamaan itu sendiri pada umumnya didorong oleh adanya suatu sikap keagamaan yang merupakan keadaan yang ada pada diri seseorang. Dengan sikap itulah akhirnya lahir tingkah laku keagamaan sesuai dengan kadar ketaatan seseorang terhadap agama yang diyakininya.
Motivasi Tingkah Laku Keagamaan
Menurut Abdul Aziz Ahyadi, penyebab tingkah laku keagamaan manusia itu merupakan campuran antara berbagai factor, baik factor lingkungan biologi, psikologi rohaniah, unsur fungsional, unsur asli dan fitrah atau karunia tuhan. Karena itu studi yang mampu membahas masalah empiris, non empiris dan rohaniah adalah agama. Agama berwenang mencari hakikat yang terdalam mengenai fitrah, takdir, kematian, hidayah, taufik, keimanan, malaikat, setan, roh, dosa, jiwa, kehadiran tuhan dan realitas non-empiris maupun rohaniah. Filsafat memang mampu membahas masalah non empiris dan mencari penybab yang terdalam dari perilaku keagamaan, namun pembahasan filsafat itu terbatas pada fakta non-empiris yang logis dan rasional.
Menurut Nico Syukur Dister, terdapat empat hal yang menyebabkan seseorang memunculkan tingkah laku keagamaan, yaitu:
·         Untuk mengatasi frustrasi;
·         Untuk menjaga kesusilaan serta tata tertib masyarakt;
·         Untuk memuaskan intelek yang ingin tahu;
·         Untuk mengatasi ketakutan.
KETAATAN BERAGAMA
Ketaatan beragama membawa dampak positif terhadap kesehatan mental karena pengalaman membuktikan bahwa seseorang yang taat beragama ia selalu mengingat Allah SWT karena banyaknya seseorang mengingat Allah, jiwa akan semakin tentram. Di dalam ajaran islam, Allah dilukiskan sebagai “zat yang maha suci”. Agar dapat mendekatkan diri kepada yang maha suci maka ia harus mensucikan jiwanya terlebih dahulu yaitu dengan beribadah. Semakin taat seseorang beribadah, semakin suci jiwanya dan semakin dekatlah ia kepada Allah. Apabila ia sudah berada sedekat mungkin dengan Allah, maka Allah akan memancarkan nur-Nya ke dalam hatinya, sehingga hati (jiwa) menjadi tentram.
Ketaatan beragama umumnya dipengaruhi oleh berbagai faktor termasuk stratifikasi sosial (kedudukan dalam masyarakat).
Untuk jelasnya dapat diperincikan sebagai berikut;
·         Faktor psikologis : kepribadian dan kondisi mental;
·         Faktor umur : anak-anak, remaja, dewasa dan tua;
·         Faktor kelamin : laki-laki dan wanita;
·         Faktor pendidikan : orang awam, pendidikan menengah dan intelektual;
·         Faktor stratifikasi sosial : petani, buruh, karyawan, pedagang dan sebagainya.
Kesimpulan
Dapat disimpulkan bahwa perkembangan jiwa keagamaan  dipengaruhi oleh  berbagai aspek psikologis yang  secara tidak langsung menyatakan bahwa antara agama dan psikologi saling mempengaruhi, yakni diantaranya dalam hal kecerdasan beragama, sikap beragama, tingkah laku beragama, dan ketaatan beragama.
Penjelasan tentang fungsi otak atau unsur fisiologis yang ada pada manusia, juga menegaskan bahwa kehidupan yang baik akan didapatkan dengan pemahaman, sikap, tingkah laku serta ketaatan yang sesuai dengan kebutuhan agama.
Daftar Pustaka
Pasiak Taufiq, 2008 REVOLUSI IQ/EQ/SQ, PT. Mizan Pustaka: Bandung
Jalaludin, 2010, Psikologi Agama, PT. Raja Grafindo Persada: Jakarta
Ramayulis, 2002, Psikologi Agama, Kalam Mulia: Jakarta

0 komentar:

Poskan Komentar

and masukannya juga ya...